Minggu, 13 Desember 2015

"Asa Yang Hilang"
Oleh Ilalang Senja

Kala senja meninggalkan Ufuknya
Membiarkan Cahayanya redup karena enyahnya mentari dari peraduannya
Membawa segenap kekuatan milikku
Hingga tak ada lagi yang tersisa dari diriku

Hanya ada keletihan yang kian melanda
Menjadikan aku semakin tak berdaya
Apa yang kumiliki kini ?
Hanya tubuh ringkih yang menampakkan empati!

Seberapa lama lagi aku mampu bertahan ?
Akankah ini akhir dari harapan ?
Mungkinkah aku berani menentang ketetapan ?
Ya IlahiRobbi kepada-Mu kukembalikan segala urusan

Dan jagalah aku dengan keyakinan
Sertakan aku sedikit kekuatan
Agar aku yakin cinta-Mu adalah keindahan
Lalu kasih-Mu adalah kebenaran
Memelukku dalam dekapan



Banda Aceh, Sabtu 14 Februari 2015


“ Malaikat  Bening ”
Oleh Ilalang Senja

Embun yang menebarkan kesucian
Teduh setiap sukmamu bersenandung
Menciptakan asa menuai harapan
Meski mendung coba menghalang

Kasihmu sebesar semesta
Takkan lenyap meski masa
Kadang menghapusnya

Kau pelita untuk duniaku
Cahayamu selalu berpendar menerangiku
Lubukmu dipenuhi kasih bening
Setiap tetesnya mengandung cinta tak terbendung

Hadirmu adalah kekuatan bagiku
Kala dunia mengerdilkanku
Kau ada untuk meninggikanku
Saat keadaan mengucilkanku
Kau datang untuk menegakkanku

Gelar untukmu bermacam ragam
Tapi aku menyebutmu
Malaikat bening sebening kasihmu
Ibuuuu…. 


Banda Aceh, Sabtu 14 Februari 2015




Ketika waktu tak lagi berarti


"Dijemput Cahaya" 
Oleh Ilalang Senja

Ketika mataku membuka terlihat cahaya yang menyilaukan
Tak pelak membuat mataku menyipit kerananya
Terang sebab sinar yang terpancarkan
Ada sambutan hangat mengikuti pendarnya

Aaah namun begitu mataku tak mampu melihatnya
Meski sekadar mengintip mencari tahu apa gerangan yang muncul di hadapku
Kurasakan sosok bayangan berkelebat tepat di wajahku
Siapa itu?
Aku ingin melihatnya

Kulawan kilau cahaya yang menyergap di pelupuk mata
Tampak, namun buram dengan remangnya
Sekilas sosok itu melihatku terpana
Namun diam oleh seribu bahasa

Kutanya padanya
Siapakah kau wahai mahkluk? Tidakkah kau manusia?
Ia tak menjawab selain mengacungkan tangan kearah langit
Jantungku berdegup kencang sebab ketakutan yang memuncul
Sungguhkah itu kau Izrail?
Aku tercekat, selesai sudah perjalananku di dunia
Kini tiba bagiku diberhentikannya hayat
Hanya ada harap dalam doa semoga mudah bagiku berjalan menuju jannah-Nya

              
                           Banda Aceh, 17 februari 2015
  
“Redup”
Ilalang senja

Senja hari ini tak tampak olehku
Tak seperti hari sebelumnya, bisa kunikmati
Mungkin hari ini ia sedang termangu!
Entahlah... ia tampak  redup, menyendiri sepi...

Dari sudut sini aku menaruh harap, munculah
Entah itu yang aku inginkan atau sekadar “temani aku”
Di ujung jingga sebelah sana sepertinya tak jauh beda denganku
Mungkin itulah sebabnya aku dan senja bersahabat, ya begitulah..

Sepi, sendu, redup menyisakan hela napas yang mungkin sulit diatur
Aah, begitukah? Sama seperti ketika hati ini menelan remahremah luka
Apa ini ? kenapa terlalu sulit untuk tertutur ?
Mungkinkah? Atau rasanya cukup kuterima saja?

Hei... senja tetap tak akan muncul
Lihat! Remang menyambut gulita
Pasti dia tahu aku terpukul
Dan kini gulita tengah tertawa
Apa yang kulalukan? Aku hanya mengkerut di sudut ruangan
Mengintip lewat celahcelah jendela
Mulai menikmati sajaksajak bayangan
Mungkin itu  luka, bukan. Lara..!


Aceh, Jum’at 22 Mei `15









Ketika Kuasa-Nya Bertahta
Oleh Ilalang Senja

Cahaya jingga membias di langit senja
Menciptakan suasana temaram nan sendu
Diiringi  nyanyian alam yang mendayu
Lantas membuat senja terpaku dalam biasnya

Mentari kini mulai menepi
Meninggalkan sinarnya bersama petang
Malam hadir dengan sejuta senyap nan sepi
Namun bulan tak biarkan malam sendiri dalam hening
Bintangpun tak ingin lupa menghibur malam dengan kerlipnya
Melepas resah  sebab meninggalkan senja
Yang kini kembali ke peraduannya

Senja, kuharap kau tak kecewa
Membiarkanmu tersisih kala sinar indahmu kau pamerkan
Tergantikan dengan malamku yang kelam berangan
Hanya karena sibulan dan sibintang yang menjadikan hadirku lebih bermakna


Kini gilirku terpekur dalam sedu – sedan
Kala malam merebut hakku membias cahaya
Namun apa daya, aku tahu malampun tak mampu menahan
Tatkala kuasa-Nya telah bertahta
Menjadikan kami tunduk karena titah-Nya

                                                                                                      Banda Aceh, 12 Februari 2015



hanya goresan cilik

“Sebab Dia Selalu Mengerti”
Ilalang Senja

            Ratih mematung, memandang lekat surat yang ada ditangannya. ‘Sosok itu’ batinnya memekik, membuatnya kembali kemasa silam . ‘Seperti mimpi’  gumamnya, seakan tak percaya.                  ***

            “Ratih, memangnya kamu sudah yakin dengan pilihanmu itu?” suara cemprengnya Iyas menggema di sudut ruangan yang hanya berukuran 3x4 meter persegi itu, mengudara yang jelas menuntut jawaban.

            “Memangnya kenapa sih Yas? Apa kamu khawatir?” jawab Ratih sekenanya yang sedari tadi sibuk dengan serangkaian tugas jaitan baju miliknya.

            “Kamu ini gimana sih Rat? Ya jelas dong aku khawatir, secara kamu itukan sahabat aku?” ucapnya dengan suara yang agak ditinggikan karena kesal. “Aku nggak mau ya kamu sampai menyesal nantinya. Mending kamu pikirin lagi deh Rat.”

            Mendengar ucapan sahabatnya, Ratih menghentikan kegiatannya. Untuk beberapa saat ia terdiam, kemudian menghela napas panjang. Menatap lekat kearah sahabatnya.

            “Yas, kamukan tahu keinginan aku seperti apa? Tapi seberapapun besarnya keinginan aku, aku tetap nggak punya pilihan! Aku harus Yas! Sekalipun aku nggak menginginkannya.”

            “Tapi Rat, masa depan kamu….”

            “Doakan saja aku Yas,. Mungkin ini memang pilihan terbaik yang Allah berikan. Untuk hal itu pasti Allah lebih tahu Yas.” Potongnya mencoba tegar di hadapan sahabatnya.

            Ketika kita dihadapkan pada satu jalan curam dan terjal tanpa adanya persimpangan untuk kita memilih jalan lain, disebabkan hanya ada satu ruas jalan yang harus dilalui, terus melaju dengan membawa seteguh keyakinan atau berhenti, menyerah untuk terpuruk. Kendatipun kita ingin kembali, tetap membutuhkan ruang untuk berbalik namun ruang itu tak pernah ada.

            Terus melaju melewati jalan curam terjal itu mungkin bisa jadi kamu akan terjatuh, namun setidaknya kamu cukup siap untuk itu dari pada berhenti untuk menyerah menjadikanmu semakin kehilangan harapan. ‘….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.’ (QS. Yusuf: 87.)
            ***     

Seberapapun terpuruknya kita jangan pernah menghakimi diri sendiri seolah kitalah yang paling menderita sebab Alqur`an telah dengan  tegas menjawabnya bahwa ‘Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’ (Qs. Al-Baqarah : 286).

Senyum sumringah terlukis di wajah Ratih, tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Air mata bahagia tumpah tak terelakan. Lekas ia berlari menuju rumah tak sabar untuk menemui Ibunya.
“Ibu…, Bu…,” panggilnya sambil belari menggenggam surat di tangannya.

“Kamu itu kenapa Rat? Kok lari sampai ngos-ngosan gitu kayak diuber setan saja” ucap ibunya yang dibuat kaget dengan tingkah putrinya itu.

Sesaat Ratih diam menatap Ibunya sambil menangis haru, kemudian memeluk erat Ibunya. Membuat Ibunya semakin bingung.

“Doa Ratih dikabulin Allah Bu,” ungkapnya sambil terus menangis haru dalam pelukan Ibunya. “Ratih dapat undangan beasiswa Bu untuk kuliah di Universitas Indonesia tahun ini.” Serunya lagi.

“Syukur alhamdulillah Ndok, kamu akhirnya bisa kuliah juga. Maafkan Ibu yang ndak bisa memberikan pendidikan yang baik buat kamu Ndok.” Ucap sang Ibu pada anaknya.

“Iya Bu, Ratih mengerti kok. Ratih nggak marah apalagi benci sama Ibu, ini semua sudah jadi rencana Allah Bu. Buat apa Ratih tahun lalu kuliah kalau Ibu sakit dan adik-adik terlantar? Yang jelas Allah pasti tahu yang terbaik buat kita Bu.”

Adakalanya apa yang menjadi keinginan kita bukanlah yang terbaik. Sebab pilihan terbaik ada disaat kita mengerti adanya kebaikan dari pilihan yang kita pilih. Saat kita mulai merasa hidup tak berpihak pada kita maka ingatlah kembali bahwa kita hanyalah seorang hamba, Allah memiliki rahasia yang kadang tak pernah terjangkau oleh akal pikiran kita. Sebab itu bertawakallah kita, yakinlah selalu atas ketetapan-Nya karena Dia Maha Mengerti setiap isi hati.

‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui’ (Qs. Al-Baqarah : 216)

“Terima kasih sahabat, untuk hadiah luar biasa ini….”

Babah Jurong, 20 April 2015






            
“Assalamualaikum Bunda”
Ilalang Senja

            “Pak Jody, mungkin besok Ina akan kembali lagi,” ucap si gadis pada seorang bapak yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.
Dengan tatapan iba namun penuh kasih si bapak hanya mengangguk tanda meng-iyakan. Mungkin dalam hatinya dipenuhi gejolak kekhawatiran. Ditatapnya punggung si gadis sampai menghilang dari penglihatannya. Hatinya tidak rela.
                                                            *@@*

            Hari itu langit tampak mendung. Suasananya kelabu. Hujanpun hadir dengan antusiasnya seolah mengerti bagaimana suasana hati sigadis. Ina, tampak sedang berdiri mengamati serbuan hujan dari sudut atas gedung lantai dua kampusnya, tempat ia biasa merenung, meratapi, bahkan itu juga merupakan tempat yang tepat untuknya saat ia sedang mencari inspirasi-inspirasi bagi tulisannya sebagai seorang penulis. Namun saat ini tampaknya suasana hatinya memang sedang tidak baik. Ia gamang.
            Mungkin ia sedang berpikir. ‘Sampai kapan aku akan terus bisa menulis’? atau mungkin ‘sampai kapan aku bisa di sini?’ tidak. ‘Sampai kapan aku akan bisa terus di sini? Melakukan hal ini?’ hatinya mulai berjibaku seolah tengah berusaha mengumpulkan puing-puing harapan.
            1 hal lagi dalam hatinya. ‘aku rindu...’
                                                            *@@*

            “Kamu kenapa Ina?” tanya sahabatnya Diah, sambil menyentuh punggung sigadis.
Ditatapnya lekat-lekat tasbih yang selalu dalam genggamannya itu. Sambil berseloroh.
            “Aku ingin pulang Diah...”
Sebenarnya Diah tak mengerti yang dimaksudkan Ina, namun demi menenangkan hati sahabatnya ia coba seolah mengerti.
“Pulanglah jika memang kamu ingin pulang,” ucapnya.
Sekarang sigadis beralih menatap Diah, sahabatnya. Tersenyum. Senyum yang janggal menurutku.

                                                *@@*

            Kelas baru saja dimulai. Suasananya cukup riuh, penuh sesak oleh para siswa. Saling lempar pertanyaan. Menurutku kelas ini cukup aktif dengan antusiasnya para siswa mengikuti pelajaran. Calon-calon jurnalis, calon-calon penulis berbakat. Semoga begitu.
Meski tak seantusias siswa yang lain, namun biasanya sigadis cukup aktif, sangat berbeda hari ini, ia terlihat begitu pendiam. Ia hanya sibuk mengamati orang-orang di sekelilingnya. Ada yang aneh. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, sepertinya ruangan ini membuatnya tidak nyaman, terlalu menyesakkan untuknya. Dan kulihat sigadis mulai gelisah, tak lama kemudian tiba-tiba dunia seperti senyap. Hening. Deg! Jantungku seakan berhenti.
“Gadis itu...”
                                                *@@*


            “Pak Jody...?” Serunya kaget.

Pak Jody tersenyum sambil mengusap rambut sigadis.

“Bapak kangen sama kamu, Ina,” ucap Pak Jody

“Maaf pak belum sempat mengujungi bapak lagi,” balas sigadis.

            “Kamu kan janji sama bapak kalau sudah waktunya akan kembali?” ucap Pak Jody lagi.

Sigadis menundukkan kepala seakan menyesal dengan perbuatannya.

            “Masih ada banyak hal yang ingin Ina lakukan pak,”

            “Bapak mengerti Ina, tapi....”

            “Beri Ina kesempatan sedikit lagi pak, Ina mohon?” Pinta sigadis.

            Pak jody menghela napas mendengar penjelasan sigadis. Tak mampu untuk menolak permintaannya.
                                                            *@@*

            Pukul 15.30 wib sepulangnya dari kampus. Bersama sahabatnya Diah, sigadis berniat untuk pulang mengujungi rumahnya yang sudah lama tak dikunjunginya, tak terlalu jauh dari kampusnya mungkin sekitar 2-3 jam perjalanan. Sebelumnya ia mengatakan pada sahabatnya bahwa ia ingin pulang mengunjungi rumahnya dan memintanya untuk menemani. Sesampainya mereka. Sigadis tak langsung pulang kerumahnya, melainkan ke pemakaman. Terang saja itu membuat sahabatnya bingung, tapi Diah lebih memilih diam, dia merasa akhir-akhir ini Ina memang agak aneh. ‘Mungkin ada yang ingin dikunjunginya.’ Begitu pikirnya.

            Dilihatnya sigadis duduk bersimpuh pada sebuah gundukan sambil memeluk batu nisan, Diah tertegun melihat nama yang tertulis pada batu nisan itu. Ina tak pernah cerita. Meski mereka bersahabat Ina sangat tertutup. Dan Ina adalah orang yang tak suka privasinya ditanya-tanya. Jadi Diah takkan bertanya bila tak Ina sendiri yang memberitahunya.

            ‘Ina rindu Ibunya...’ serunya dalam hati. Diam-diam Diah meneteskan air mata.
Diah yang tengah asik dengan perasaan harunya, tiba-tiba mulai gelisah melihat Ina yang sudah sedari tadi tak beranjak dari makam ibunya. Ia coba mendekatinya. Lalu apa yang terjadi ? Ina tak bergeming. Tentu saja itu membuatnya panik. Ina pingsan.
                                                *@@*

            “Pak Jody, Ina bagaimana? Apa yang terjadi dengan Ina pak?” Tanyak Diah cemas.

            Pak Jody lagi-lagi menghela napas.

            “Ina kenapa pak?” Tanya Diah lagi.

            Kini Pak Jody menunduk, terlihat kecemasan luar biasa di wajahnya. Pak Jody, dokter yang selama ini menangani Ina. Belum terlalu lama mungkin sekitar beberapa bulan yang lalu tapi sudah begitu dekat dengan Ina, layaknya anak sendiri. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Sebelumnya ia telah kehilangan putri semata wayangnya. Dan sekarang Inapun yang dianggapnya seperti putrinya sendiri. Harus kehilangannya sebab penyakit yang dideritanya.

            “Ina rindu Ibunya, dia ingin bertemu Ibunya...’ jelas Pak Jody sambil menangis.
Diah tertegun mendengar penjelasan Pak Jody. Dan Pak Jody pun seolah mengerti kebingungan Diah.

            “Ina sakit...” ucap Pak Jody terbata “kanker pangkreas...”
Kini giliran Diah tak bergeming. Ia terduduk lemas.
                                                            *@@*

            Sigadis yang rindu rumahnya, rindu Ibunya. Mungkin kini telah sampai di rumah abadinya. Aku bisa merasakannya dari sini, rindu yang tertahan.

            Berdiri ia tepat di depan pintu rumah keabadiaanya. Tanpa beban, merona senyumnya menghiasi bibir mungilnya. Di ketoknya pintu.

            “Assalamualaikum Bunda...”
            Tampak sosok jelita nan ayu dengan senyum mengembang menyambut kehadirannya. Peluk cinta dari keduanya. Lepas sudah rindu tertahan yang selama ini dibekapnya dalam-dalam. Keabadian yang indah.
                                                
Banda Aceh, July 2015