“Assalamualaikum
Bunda”
Ilalang
Senja
“Pak Jody, mungkin besok Ina akan kembali lagi,” ucap si gadis
pada seorang bapak yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.
Dengan
tatapan iba namun penuh kasih si bapak hanya mengangguk tanda meng-iyakan. Mungkin
dalam hatinya dipenuhi gejolak kekhawatiran. Ditatapnya punggung si gadis
sampai menghilang dari penglihatannya. Hatinya tidak rela.
*@@*
Hari itu langit tampak mendung. Suasananya kelabu. Hujanpun
hadir dengan antusiasnya seolah mengerti bagaimana suasana hati sigadis. Ina,
tampak sedang berdiri mengamati serbuan hujan dari sudut atas gedung lantai dua
kampusnya, tempat ia biasa merenung, meratapi, bahkan itu juga merupakan tempat
yang tepat untuknya saat ia sedang mencari inspirasi-inspirasi bagi tulisannya
sebagai seorang penulis. Namun saat ini tampaknya suasana hatinya memang sedang
tidak baik. Ia gamang.
Mungkin ia sedang berpikir. ‘Sampai kapan aku akan terus bisa menulis’? atau mungkin ‘sampai kapan aku bisa di sini?’ tidak. ‘Sampai kapan aku akan bisa terus di sini?
Melakukan hal ini?’ hatinya mulai berjibaku seolah tengah berusaha
mengumpulkan puing-puing harapan.
1 hal lagi dalam hatinya. ‘aku rindu...’
*@@*
“Kamu kenapa
Ina?” tanya sahabatnya Diah, sambil menyentuh punggung sigadis.
Ditatapnya lekat-lekat
tasbih yang selalu dalam genggamannya itu. Sambil berseloroh.
“Aku ingin pulang Diah...”
Sebenarnya
Diah tak mengerti yang dimaksudkan Ina, namun demi menenangkan hati sahabatnya
ia coba seolah mengerti.
“Pulanglah
jika memang kamu ingin pulang,” ucapnya.
Sekarang
sigadis beralih menatap Diah, sahabatnya. Tersenyum. Senyum yang janggal
menurutku.
*@@*
Kelas baru saja dimulai. Suasananya cukup riuh, penuh
sesak oleh para siswa. Saling lempar pertanyaan. Menurutku kelas ini cukup
aktif dengan antusiasnya para siswa mengikuti pelajaran. Calon-calon jurnalis,
calon-calon penulis berbakat. Semoga begitu.
Meski
tak seantusias siswa yang lain, namun biasanya sigadis cukup aktif, sangat
berbeda hari ini, ia terlihat begitu pendiam. Ia hanya sibuk mengamati
orang-orang di sekelilingnya. Ada yang aneh. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya,
sepertinya ruangan ini membuatnya tidak nyaman, terlalu menyesakkan untuknya.
Dan kulihat sigadis mulai gelisah, tak lama kemudian tiba-tiba dunia seperti
senyap. Hening. Deg! Jantungku seakan berhenti.
“Gadis
itu...”
*@@*
“Pak Jody...?” Serunya kaget.
Pak
Jody tersenyum sambil mengusap rambut sigadis.
“Bapak
kangen sama kamu, Ina,” ucap Pak Jody
“Maaf
pak belum sempat mengujungi bapak lagi,” balas sigadis.
“Kamu kan janji sama bapak kalau sudah waktunya akan
kembali?” ucap Pak Jody lagi.
Sigadis
menundukkan kepala seakan menyesal dengan perbuatannya.
“Masih ada banyak hal yang ingin Ina lakukan pak,”
“Bapak mengerti Ina, tapi....”
“Beri Ina kesempatan sedikit lagi pak, Ina mohon?” Pinta
sigadis.
Pak jody menghela napas mendengar penjelasan sigadis. Tak
mampu untuk menolak permintaannya.
*@@*
Pukul 15.30 wib sepulangnya dari kampus. Bersama sahabatnya
Diah, sigadis berniat untuk pulang mengujungi rumahnya yang sudah lama tak
dikunjunginya, tak terlalu jauh dari kampusnya mungkin sekitar 2-3 jam
perjalanan. Sebelumnya ia mengatakan pada sahabatnya bahwa ia ingin pulang
mengunjungi rumahnya dan memintanya untuk menemani. Sesampainya mereka. Sigadis
tak langsung pulang kerumahnya, melainkan ke pemakaman. Terang saja itu membuat
sahabatnya bingung, tapi Diah lebih memilih diam, dia merasa akhir-akhir ini
Ina memang agak aneh. ‘Mungkin ada yang
ingin dikunjunginya.’ Begitu pikirnya.
Dilihatnya sigadis duduk bersimpuh pada sebuah gundukan
sambil memeluk batu nisan, Diah tertegun melihat nama yang tertulis pada batu
nisan itu. Ina tak pernah cerita. Meski mereka bersahabat Ina sangat tertutup.
Dan Ina adalah orang yang tak suka privasinya ditanya-tanya. Jadi Diah takkan
bertanya bila tak Ina sendiri yang memberitahunya.
‘Ina rindu
Ibunya...’ serunya dalam hati. Diam-diam Diah meneteskan air mata.
Diah
yang tengah asik dengan perasaan harunya, tiba-tiba mulai gelisah melihat Ina
yang sudah sedari tadi tak beranjak dari makam ibunya. Ia coba mendekatinya.
Lalu apa yang terjadi ? Ina tak bergeming. Tentu saja itu membuatnya panik. Ina
pingsan.
*@@*
“Pak Jody, Ina bagaimana? Apa yang terjadi dengan Ina
pak?” Tanyak Diah cemas.
Pak Jody lagi-lagi menghela napas.
“Ina kenapa pak?” Tanya Diah lagi.
Kini Pak Jody menunduk, terlihat kecemasan luar biasa di
wajahnya. Pak Jody, dokter yang selama ini menangani Ina. Belum terlalu lama
mungkin sekitar beberapa bulan yang lalu tapi sudah begitu dekat dengan Ina,
layaknya anak sendiri. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Sebelumnya ia
telah kehilangan putri semata wayangnya. Dan sekarang Inapun yang dianggapnya
seperti putrinya sendiri. Harus kehilangannya sebab penyakit yang dideritanya.
“Ina rindu Ibunya, dia ingin bertemu Ibunya...’ jelas Pak
Jody sambil menangis.
Diah tertegun mendengar penjelasan Pak Jody. Dan Pak Jody
pun seolah mengerti kebingungan Diah.
“Ina sakit...” ucap Pak Jody terbata “kanker
pangkreas...”
Kini giliran Diah tak
bergeming. Ia terduduk lemas.
*@@*
Sigadis yang rindu rumahnya, rindu Ibunya. Mungkin kini
telah sampai di rumah abadinya. Aku bisa merasakannya dari sini, rindu yang
tertahan.
Berdiri ia tepat di depan pintu rumah keabadiaanya. Tanpa
beban, merona senyumnya menghiasi bibir mungilnya. Di ketoknya pintu.
“Assalamualaikum Bunda...”
Tampak sosok jelita nan ayu dengan senyum mengembang menyambut
kehadirannya. Peluk cinta dari keduanya. Lepas sudah rindu tertahan yang selama
ini dibekapnya dalam-dalam. Keabadian yang indah.
Banda
Aceh, July 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar