Minggu, 13 Desember 2015

“Assalamualaikum Bunda”
Ilalang Senja

            “Pak Jody, mungkin besok Ina akan kembali lagi,” ucap si gadis pada seorang bapak yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.
Dengan tatapan iba namun penuh kasih si bapak hanya mengangguk tanda meng-iyakan. Mungkin dalam hatinya dipenuhi gejolak kekhawatiran. Ditatapnya punggung si gadis sampai menghilang dari penglihatannya. Hatinya tidak rela.
                                                            *@@*

            Hari itu langit tampak mendung. Suasananya kelabu. Hujanpun hadir dengan antusiasnya seolah mengerti bagaimana suasana hati sigadis. Ina, tampak sedang berdiri mengamati serbuan hujan dari sudut atas gedung lantai dua kampusnya, tempat ia biasa merenung, meratapi, bahkan itu juga merupakan tempat yang tepat untuknya saat ia sedang mencari inspirasi-inspirasi bagi tulisannya sebagai seorang penulis. Namun saat ini tampaknya suasana hatinya memang sedang tidak baik. Ia gamang.
            Mungkin ia sedang berpikir. ‘Sampai kapan aku akan terus bisa menulis’? atau mungkin ‘sampai kapan aku bisa di sini?’ tidak. ‘Sampai kapan aku akan bisa terus di sini? Melakukan hal ini?’ hatinya mulai berjibaku seolah tengah berusaha mengumpulkan puing-puing harapan.
            1 hal lagi dalam hatinya. ‘aku rindu...’
                                                            *@@*

            “Kamu kenapa Ina?” tanya sahabatnya Diah, sambil menyentuh punggung sigadis.
Ditatapnya lekat-lekat tasbih yang selalu dalam genggamannya itu. Sambil berseloroh.
            “Aku ingin pulang Diah...”
Sebenarnya Diah tak mengerti yang dimaksudkan Ina, namun demi menenangkan hati sahabatnya ia coba seolah mengerti.
“Pulanglah jika memang kamu ingin pulang,” ucapnya.
Sekarang sigadis beralih menatap Diah, sahabatnya. Tersenyum. Senyum yang janggal menurutku.

                                                *@@*

            Kelas baru saja dimulai. Suasananya cukup riuh, penuh sesak oleh para siswa. Saling lempar pertanyaan. Menurutku kelas ini cukup aktif dengan antusiasnya para siswa mengikuti pelajaran. Calon-calon jurnalis, calon-calon penulis berbakat. Semoga begitu.
Meski tak seantusias siswa yang lain, namun biasanya sigadis cukup aktif, sangat berbeda hari ini, ia terlihat begitu pendiam. Ia hanya sibuk mengamati orang-orang di sekelilingnya. Ada yang aneh. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, sepertinya ruangan ini membuatnya tidak nyaman, terlalu menyesakkan untuknya. Dan kulihat sigadis mulai gelisah, tak lama kemudian tiba-tiba dunia seperti senyap. Hening. Deg! Jantungku seakan berhenti.
“Gadis itu...”
                                                *@@*


            “Pak Jody...?” Serunya kaget.

Pak Jody tersenyum sambil mengusap rambut sigadis.

“Bapak kangen sama kamu, Ina,” ucap Pak Jody

“Maaf pak belum sempat mengujungi bapak lagi,” balas sigadis.

            “Kamu kan janji sama bapak kalau sudah waktunya akan kembali?” ucap Pak Jody lagi.

Sigadis menundukkan kepala seakan menyesal dengan perbuatannya.

            “Masih ada banyak hal yang ingin Ina lakukan pak,”

            “Bapak mengerti Ina, tapi....”

            “Beri Ina kesempatan sedikit lagi pak, Ina mohon?” Pinta sigadis.

            Pak jody menghela napas mendengar penjelasan sigadis. Tak mampu untuk menolak permintaannya.
                                                            *@@*

            Pukul 15.30 wib sepulangnya dari kampus. Bersama sahabatnya Diah, sigadis berniat untuk pulang mengujungi rumahnya yang sudah lama tak dikunjunginya, tak terlalu jauh dari kampusnya mungkin sekitar 2-3 jam perjalanan. Sebelumnya ia mengatakan pada sahabatnya bahwa ia ingin pulang mengunjungi rumahnya dan memintanya untuk menemani. Sesampainya mereka. Sigadis tak langsung pulang kerumahnya, melainkan ke pemakaman. Terang saja itu membuat sahabatnya bingung, tapi Diah lebih memilih diam, dia merasa akhir-akhir ini Ina memang agak aneh. ‘Mungkin ada yang ingin dikunjunginya.’ Begitu pikirnya.

            Dilihatnya sigadis duduk bersimpuh pada sebuah gundukan sambil memeluk batu nisan, Diah tertegun melihat nama yang tertulis pada batu nisan itu. Ina tak pernah cerita. Meski mereka bersahabat Ina sangat tertutup. Dan Ina adalah orang yang tak suka privasinya ditanya-tanya. Jadi Diah takkan bertanya bila tak Ina sendiri yang memberitahunya.

            ‘Ina rindu Ibunya...’ serunya dalam hati. Diam-diam Diah meneteskan air mata.
Diah yang tengah asik dengan perasaan harunya, tiba-tiba mulai gelisah melihat Ina yang sudah sedari tadi tak beranjak dari makam ibunya. Ia coba mendekatinya. Lalu apa yang terjadi ? Ina tak bergeming. Tentu saja itu membuatnya panik. Ina pingsan.
                                                *@@*

            “Pak Jody, Ina bagaimana? Apa yang terjadi dengan Ina pak?” Tanyak Diah cemas.

            Pak Jody lagi-lagi menghela napas.

            “Ina kenapa pak?” Tanya Diah lagi.

            Kini Pak Jody menunduk, terlihat kecemasan luar biasa di wajahnya. Pak Jody, dokter yang selama ini menangani Ina. Belum terlalu lama mungkin sekitar beberapa bulan yang lalu tapi sudah begitu dekat dengan Ina, layaknya anak sendiri. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Sebelumnya ia telah kehilangan putri semata wayangnya. Dan sekarang Inapun yang dianggapnya seperti putrinya sendiri. Harus kehilangannya sebab penyakit yang dideritanya.

            “Ina rindu Ibunya, dia ingin bertemu Ibunya...’ jelas Pak Jody sambil menangis.
Diah tertegun mendengar penjelasan Pak Jody. Dan Pak Jody pun seolah mengerti kebingungan Diah.

            “Ina sakit...” ucap Pak Jody terbata “kanker pangkreas...”
Kini giliran Diah tak bergeming. Ia terduduk lemas.
                                                            *@@*

            Sigadis yang rindu rumahnya, rindu Ibunya. Mungkin kini telah sampai di rumah abadinya. Aku bisa merasakannya dari sini, rindu yang tertahan.

            Berdiri ia tepat di depan pintu rumah keabadiaanya. Tanpa beban, merona senyumnya menghiasi bibir mungilnya. Di ketoknya pintu.

            “Assalamualaikum Bunda...”
            Tampak sosok jelita nan ayu dengan senyum mengembang menyambut kehadirannya. Peluk cinta dari keduanya. Lepas sudah rindu tertahan yang selama ini dibekapnya dalam-dalam. Keabadian yang indah.
                                                
Banda Aceh, July 2015
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar