Minggu, 13 Desember 2015

hanya goresan cilik

“Sebab Dia Selalu Mengerti”
Ilalang Senja

            Ratih mematung, memandang lekat surat yang ada ditangannya. ‘Sosok itu’ batinnya memekik, membuatnya kembali kemasa silam . ‘Seperti mimpi’  gumamnya, seakan tak percaya.                  ***

            “Ratih, memangnya kamu sudah yakin dengan pilihanmu itu?” suara cemprengnya Iyas menggema di sudut ruangan yang hanya berukuran 3x4 meter persegi itu, mengudara yang jelas menuntut jawaban.

            “Memangnya kenapa sih Yas? Apa kamu khawatir?” jawab Ratih sekenanya yang sedari tadi sibuk dengan serangkaian tugas jaitan baju miliknya.

            “Kamu ini gimana sih Rat? Ya jelas dong aku khawatir, secara kamu itukan sahabat aku?” ucapnya dengan suara yang agak ditinggikan karena kesal. “Aku nggak mau ya kamu sampai menyesal nantinya. Mending kamu pikirin lagi deh Rat.”

            Mendengar ucapan sahabatnya, Ratih menghentikan kegiatannya. Untuk beberapa saat ia terdiam, kemudian menghela napas panjang. Menatap lekat kearah sahabatnya.

            “Yas, kamukan tahu keinginan aku seperti apa? Tapi seberapapun besarnya keinginan aku, aku tetap nggak punya pilihan! Aku harus Yas! Sekalipun aku nggak menginginkannya.”

            “Tapi Rat, masa depan kamu….”

            “Doakan saja aku Yas,. Mungkin ini memang pilihan terbaik yang Allah berikan. Untuk hal itu pasti Allah lebih tahu Yas.” Potongnya mencoba tegar di hadapan sahabatnya.

            Ketika kita dihadapkan pada satu jalan curam dan terjal tanpa adanya persimpangan untuk kita memilih jalan lain, disebabkan hanya ada satu ruas jalan yang harus dilalui, terus melaju dengan membawa seteguh keyakinan atau berhenti, menyerah untuk terpuruk. Kendatipun kita ingin kembali, tetap membutuhkan ruang untuk berbalik namun ruang itu tak pernah ada.

            Terus melaju melewati jalan curam terjal itu mungkin bisa jadi kamu akan terjatuh, namun setidaknya kamu cukup siap untuk itu dari pada berhenti untuk menyerah menjadikanmu semakin kehilangan harapan. ‘….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.’ (QS. Yusuf: 87.)
            ***     

Seberapapun terpuruknya kita jangan pernah menghakimi diri sendiri seolah kitalah yang paling menderita sebab Alqur`an telah dengan  tegas menjawabnya bahwa ‘Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’ (Qs. Al-Baqarah : 286).

Senyum sumringah terlukis di wajah Ratih, tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Air mata bahagia tumpah tak terelakan. Lekas ia berlari menuju rumah tak sabar untuk menemui Ibunya.
“Ibu…, Bu…,” panggilnya sambil belari menggenggam surat di tangannya.

“Kamu itu kenapa Rat? Kok lari sampai ngos-ngosan gitu kayak diuber setan saja” ucap ibunya yang dibuat kaget dengan tingkah putrinya itu.

Sesaat Ratih diam menatap Ibunya sambil menangis haru, kemudian memeluk erat Ibunya. Membuat Ibunya semakin bingung.

“Doa Ratih dikabulin Allah Bu,” ungkapnya sambil terus menangis haru dalam pelukan Ibunya. “Ratih dapat undangan beasiswa Bu untuk kuliah di Universitas Indonesia tahun ini.” Serunya lagi.

“Syukur alhamdulillah Ndok, kamu akhirnya bisa kuliah juga. Maafkan Ibu yang ndak bisa memberikan pendidikan yang baik buat kamu Ndok.” Ucap sang Ibu pada anaknya.

“Iya Bu, Ratih mengerti kok. Ratih nggak marah apalagi benci sama Ibu, ini semua sudah jadi rencana Allah Bu. Buat apa Ratih tahun lalu kuliah kalau Ibu sakit dan adik-adik terlantar? Yang jelas Allah pasti tahu yang terbaik buat kita Bu.”

Adakalanya apa yang menjadi keinginan kita bukanlah yang terbaik. Sebab pilihan terbaik ada disaat kita mengerti adanya kebaikan dari pilihan yang kita pilih. Saat kita mulai merasa hidup tak berpihak pada kita maka ingatlah kembali bahwa kita hanyalah seorang hamba, Allah memiliki rahasia yang kadang tak pernah terjangkau oleh akal pikiran kita. Sebab itu bertawakallah kita, yakinlah selalu atas ketetapan-Nya karena Dia Maha Mengerti setiap isi hati.

‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui’ (Qs. Al-Baqarah : 216)

“Terima kasih sahabat, untuk hadiah luar biasa ini….”

Babah Jurong, 20 April 2015






            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar