“Sebab
Dia Selalu Mengerti”
Ilalang
Senja
Ratih mematung, memandang lekat
surat yang ada ditangannya. ‘Sosok itu’ batinnya
memekik, membuatnya kembali kemasa silam . ‘Seperti
mimpi’ gumamnya, seakan tak percaya. ***
“Ratih, memangnya kamu sudah yakin dengan
pilihanmu itu?” suara cemprengnya Iyas menggema di sudut ruangan yang hanya
berukuran 3x4 meter persegi itu, mengudara yang jelas menuntut jawaban.
“Memangnya kenapa sih Yas? Apa kamu
khawatir?” jawab Ratih sekenanya yang sedari tadi sibuk dengan serangkaian
tugas jaitan baju miliknya.
“Kamu ini gimana sih Rat? Ya jelas
dong aku khawatir, secara kamu itukan sahabat aku?” ucapnya dengan suara yang
agak ditinggikan karena kesal. “Aku nggak mau ya kamu sampai menyesal nantinya.
Mending kamu pikirin lagi deh Rat.”
Mendengar ucapan sahabatnya, Ratih
menghentikan kegiatannya. Untuk beberapa saat ia terdiam, kemudian menghela
napas panjang. Menatap lekat kearah sahabatnya.
“Yas, kamukan tahu keinginan aku
seperti apa? Tapi seberapapun besarnya keinginan aku, aku tetap nggak punya
pilihan! Aku harus Yas! Sekalipun aku nggak menginginkannya.”
“Tapi Rat, masa depan kamu….”
“Doakan saja aku Yas,. Mungkin ini
memang pilihan terbaik yang Allah berikan. Untuk hal itu pasti Allah lebih tahu
Yas.” Potongnya mencoba tegar di hadapan sahabatnya.
Ketika kita dihadapkan pada satu
jalan curam dan terjal tanpa adanya persimpangan untuk kita memilih jalan lain,
disebabkan hanya ada satu ruas jalan yang harus dilalui, terus melaju dengan
membawa seteguh keyakinan atau berhenti, menyerah untuk terpuruk. Kendatipun
kita ingin kembali, tetap membutuhkan ruang untuk berbalik namun ruang itu tak
pernah ada.
Terus melaju melewati jalan curam
terjal itu mungkin bisa jadi kamu akan terjatuh, namun setidaknya kamu cukup
siap untuk itu dari pada berhenti untuk menyerah menjadikanmu semakin
kehilangan harapan. ‘….dan janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari
rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.’ (QS. Yusuf: 87.)
***
Seberapapun
terpuruknya kita jangan pernah menghakimi diri sendiri seolah kitalah yang
paling menderita sebab Alqur`an telah dengan
tegas menjawabnya bahwa ‘Allah tidak membebani seseorang itu melainkan
sesuai dengan kesanggupannya.’
(Qs. Al-Baqarah : 286).
Senyum
sumringah terlukis di wajah Ratih, tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Air
mata bahagia tumpah tak terelakan. Lekas ia berlari menuju rumah tak sabar
untuk menemui Ibunya.
“Ibu…,
Bu…,” panggilnya sambil belari menggenggam surat di tangannya.
“Kamu
itu kenapa Rat? Kok lari sampai ngos-ngosan gitu kayak diuber setan saja” ucap
ibunya yang dibuat kaget dengan tingkah putrinya itu.
Sesaat
Ratih diam menatap Ibunya sambil menangis haru, kemudian memeluk erat Ibunya.
Membuat Ibunya semakin bingung.
“Doa
Ratih dikabulin Allah Bu,” ungkapnya sambil terus menangis haru dalam pelukan
Ibunya. “Ratih dapat undangan beasiswa Bu untuk kuliah di Universitas Indonesia
tahun ini.” Serunya lagi.
“Syukur
alhamdulillah Ndok, kamu akhirnya bisa kuliah juga. Maafkan Ibu yang ndak bisa
memberikan pendidikan yang baik buat kamu Ndok.” Ucap sang Ibu pada anaknya.
“Iya
Bu, Ratih mengerti kok. Ratih nggak marah apalagi benci sama Ibu, ini semua
sudah jadi rencana Allah Bu. Buat apa Ratih tahun lalu kuliah kalau Ibu sakit
dan adik-adik terlantar? Yang jelas Allah pasti tahu yang terbaik buat kita
Bu.”
Adakalanya
apa yang menjadi keinginan kita bukanlah yang terbaik. Sebab pilihan terbaik
ada disaat kita mengerti adanya kebaikan dari pilihan yang kita pilih. Saat
kita mulai merasa hidup tak berpihak pada kita maka ingatlah kembali bahwa kita
hanyalah seorang hamba, Allah memiliki rahasia yang kadang tak pernah
terjangkau oleh akal pikiran kita. Sebab itu bertawakallah kita, yakinlah
selalu atas ketetapan-Nya karena Dia Maha Mengerti setiap isi hati.
‘Boleh
jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula
kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui
sedang kamu tidak mengetahui’ (Qs. Al-Baqarah : 216)
“Terima
kasih sahabat, untuk hadiah luar biasa ini….”
Babah
Jurong, 20 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar