Minggu, 13 Desember 2015

Sebuah kisah masa lalu

“Karena Dia Mencintaimu”
Oleh Ilalang Senja

Masa kanak-kanak mungkin bagi kebanyakan anak merupakan masa yang paling indah untuk dilalui, diceritakan dan dikenang. Aku sendiripun tidak menyangkalnya, bisa bermain bersama teman, ceria dan tertawa dalam riang tanpa memiliki beban atau bahkan tak sekalipun memperdulikannya. Namun bagiku itu bukanlah suatu kebahagiaan melainkan suatu keberuntungan dan itu patut untuk disyukuri.
Kini kedewasaan membuatku mengenang, mengembara kembali kemasa itu untuk mengkaji hal-hal yang seharusnya membuatku berpikir dan lebih bisa mensyukuri untuk setiap nikmat yang Allah berikan.
            Meskipun hari-hariku dipenuhi dengan keceriaan, namun aku tergolong anak yang selalu suka berpikir dan memperhatikan setiap keadaan yang terjadi di sekitarku, hanya saja itu tak sampai menjadikan beban buatku, walau tak jarang kadang tangis sering menghiasi warna hariku, tapi anak-anak seringkali selalu melupakan masalahnya begitu saja. Dan itulah aku dimasa kecilku.
            “Ina sayaaang! sudah dulu nak mainnya, sudah sore…, waktunya mandi,” itu suara Bundaku yang selalu berhasil membuatku luluh, “teman-teman Ina pulang dulu ya besok main lagi kesini,” lanjutnya pada teman-temanku.
            “Iya Bi…, Ina kami pulang ya…,” Sahut mereka.
            “Besok main lagi ya ?” sambungku.
            “Bunda, Ina lapar…,” ucapku sambil membiarkan Bunda membukakan bajuku untuk mandi.
            “Itu karena Ina keasikan main sampai lupa makan. Nah sekarang Ina mandi dulu nanti Bunda siapkan makan…,”
                        ***

            Suatu ketika tanpa kusadari sebuah perasaan aneh menyelinap didadaku, sesuatu yang selalu membuatku berpikir, sesuatu yang selalu berhasil membuatku iri pada teman-temanku. Bunda memang selalu menyayangiku tapi tak bisa kupungkiri ada sosok lain yang kurindukan. Ayah, ya dia. Aku merindukan sosoknya. Sering aku bertanya pada Bunda tentang Ayah. Waktu itu aku tidak mengerti, kurasa bukan hanya aku yang merindukannya, Bunda juga merasakannya.
            “Bunda, Ayah kemana sih? Teman-teman Ina semua punya Ayah, kok Ayah Ina nggak ada Bun? Ina kan juga pengen digendongin sama Ayah seperti teman-teman Ina yang digendongin sama Ayahnya Bun,” tanyaku lugu, yang sama sekali tak ku tahu bahwa pertanyaanku begitu menggores hatinya.
            Andai bisa ku ulang waktu dan bisa kupahami, sungguh mungkin dulu tak kan pernah kutanyakan hal itu pada Bunda. Maafkan aku Bunda yang tanpa kusadari sering menorehkan luka di hatimu.
            Bunda tersenyum sambil memelukku, walau jelas sorot matanya mengisyaratkan kesedihan, “Ayah sekarang lagi kerja sayang, cari uang buat beli mainan yang baaaanyak sekali untuk Ina. Nanti Ayah pasti pulang kok,” hiburnya padaku.
            “Berarti nanti kalau Ayah pulang Ina boleh minta gendong sama Ayah dong Bun?”
            “Tentu sayang…,” jawabnya sambil mengecup keningku.
          
           Bunda tidak sepenuhnya berbohong, Ayah memang pergi, merantau untuk mencari nafkah, begitu katanya dan awalnya juga begitu, tapi tidak kenyataannya. Ku akui Ayah memang pernah pulang beberapa kali, hanya beberapa kali. Bahkan aku hampir lupa wajahnya seperti apa.
            Aku tidak mengelaknya aku memang merindukan Ayah, tapi kian hari bertambahnya usiaku bertambah pula pola pikirku. Semakin hari rasa rindu yang kusimpan untuk Ayah mulai sirna tergantikan oleh rasa benci. Ya aku sempat benci padanya. Namun aku kini mengikhlaskannya.
                        ***
            Harus selalu kuingat meski aku rindu akan kasih sayang Ayah, meski aku haus kasih sayangnya. Allah tidak pernah mengurangi rasa cinta-Nya padaku, Allah menganugerahkan aku seorang Bunda yang begitu besar mencintaiku, dengan tulus menyayangiku.
            Bunda betapa bangganya aku bisa terlahir sebagai anakmu, anak yang kau cintai sepenuh kasih, kau sayangi sepenuh jiwa dan ragamu. Aku tidak tahu andai aku terlahir dari rahim selainmu apakah aku bisa memiliki cinta kasih yang begitu besarnya seperti yang kumiliki saat ini, itu rahasia Allah, tapi yang kutahu aku tak pernah ingin punya Bunda yang lain selainmu.
            
         Allah lebih mencintaiku dengan tidak mengizinkan aku memiliki Ayah yang tidak mencintaiku, Allah membuatku lupa tentangnya dengan menghadiahiku orang-orang terbaik di sekitarku. Bunda, abang-abangku, sahabat dan semua mereka yang mencintaiku.
           
           Sampai suatu ketika aku pernah mengatakan pada Bunda.
           “Ina sayang Bunda, Ina nggak apa-apa nggak punya Ayah yang penting Ina punya Bunda yang selalu sayang sama Ina. Bunda jangan pernah pergi tinggalin Ina ya Bun?” ucapku kala itu. 
Aku tahu itu membuat Bunda sedih, tapi aku tak sanggup untuk tidak mengatakannya. Dan Bunda mana yang tidak akan menangis mendengar anaknya berkata seperti itu.
           
          “Iya sayang Bunda juga sayaaaang sekali sama Ina. Bunda janji akan selalu ada buat Ina. Terima kasih sayang sudah menjadi buah hati Bunda, Bunda akan berusaha memberikan yang terbaik buat Ina,” ucapnya dengan linangan air mata sambil memelukku erat.
            
          Hal apa lagi yang harus membuatku untuk tidak bersyukur atas nikmat karunia yang Allah limpahkan padaku? Di ciptakan-Nya bidadari indah untukku. Diberikan-Nya malaikat bening untukku, disuguhkan-Nya surga kasih untukku. ‘Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?’
                        ***

            Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan. Ya itu benar, karena sesungguhnya Dia Maha Tahu, walau apa yang kita butuhkan kadang tak pernah kita inginkan. Allah mengujiku dengan hal yang tak pernah ku inginkan. Bundaku. Allah mengambilnya dariku, Dia mengambil malaikat beningku. Bidadariku. Bisakah dibayangkan seberapa hancurnya hatiku. 

         Bunda yang selalu ada untukku, yang selalu menemaniku, menjagaku, mencintaiku sepenuh kasihnya, pergi. Namun Bunda membuatku tak sempat untuk menangis, bahkan tak mengizinkanku untuk protes. Sebab Bunda pernah berkata bahwa Allah selalu mencintai hamba-Nya. Tak peduli siapapun dia. Dan Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.

“Ina sayang, Bunda sayaaaang sekali sama Ina, Ina harus janji kelak harus jadi anak yang pintar, anak yang hebat dan selalu ingat sama Allah. Juga jangan lupa untuk selalu mendoakan Bunda. Apapun yang terjadi kalau nanti Ina sedih jangan pernah Ina marah sama Allah ya Nak, karena kalau Allah buat Ina sedih itu tandanya Allah mau kasih kebahagiaan yang lebih besar lagi,” pesan Bunda yang pernah disampaikannya padaku.

Ya Bunda benar. Allah tidak akan memberikanmu kesedihan jika Dia tidak menggantikannya dengan kebahagiaan yang lebih besar. Melalui Bunda Allah mengajarkan aku keikhlasan dalam kehidupan. Allah memang mengambil Bunda dariku tapi Allah tidak pernah mengurangi rasa sayang-Nya padaku justru Dia terus menghujamiku dengan kasih sayang-Nya yang lebih besar lagi. Dengan menghadirkan orang-orang yang begitu sayang dan mencintaiku. Dan kini tak perlu ada hal yang kusesalkan, setidaknya Allah  pernah mengizinkanku memiliki seorang bidadari indah dalam hidupku, menjadi buah cinta dari malaikat beningku. Terima kasih Allah mengizinkanku memilikinya. Aku tahu Kau mencintaiku.

                                                                                                      
                                                                                                        Babah Jurong, 15 April 2015